Ramuan Untuk Mengobati Diabetes Pada Anak

Khususnya tipe 2 yang bukan faktor keturunan– kini tak hanya menyerang orang dewasa, tetapi juga menyerang anak-anak dan remaja. Ironisnya lagi, diabetes pada anak sulit dideteksi, sehingga tidak bisa dicegah sejak dini. Nah untuk itu jika anak anda terkena penyakit diabetes melitus yang sudah lama belum kunjung sembuh, anda jangan usah khawatir untuk mencari obatnya karena disini kami akan memberikan pengobatan herbal alami untuk penyakit diabetes melitus anak yaitu dengan obat herbal De Nature Indonesia.

De Nature Indonesia ini mampu mengobati penyakit diabetes melitus anak dengan cepat aman tanpa efek samping yang membahayakan tubuh. Sebelum membahas lebih jauh, mari kita jelaskan dulu apa itu penyakit diabetes melitus anak.

Sekilas Mengenai Penyakit Diabetes Melitus Pada Anak

Diabetes Melitus merupakan gangguan metabolisme karbohidrat karena jumlah insulin yang kurang, atau bisa juga karena kerja insulin yang tidak optimal. Insulin merupakan hormon yang dilepaskan oleh pankreas, yang bertanggungjawab dalam mempertahankan kadar gula darah yang tepat. Insulin membuat gula berpindah ke dalam sel sehingga menghasilkan energi, atau disimpan sebagai cadangan energi.

Peningkatan kadar gula darah setelah makan atau minum akan merangsang pankreas menghasilkan insulin, sehingga mencegah kenaikan kadar gula darah yang lebih lanjut dan menyebabkan kadar gula darah menurun secara perlahan. Pada saat melakukan aktivitas fisik, kadar gula darah juga bisa menurun karena otot menggunakan glukosa untuk energi.

Dr Luszy menambahkan, selama ini anak-anak yang menderita diabetes masuk dalam tipe 1. Artinya, penyakit tersebut diturunkan dari orangtuanya karena terjadi defisiensi insulin akibat kerusakan sel beta pankreas dalam tubuhnya. Kondisi itu menyebabkan anak kekurangan hormon insulin.

Baca juga : Obat Diabetes Anak

Penyebab Penyakit Diabetes Melitus Pada Anak

  • Terlalu banyak mengkonsumsi makanan dengan kadar gula tinggi sehingga tidak dapat disimpan dalam hati dan sel otot (glikogen).
  • Gula dalam darah tidak bisa amaksimal masuk dalam sel
  • Hormon lainnya telah banyak mengubah zat-zat seperti karbohidrat dan protein menjadi glukosa sehingga kadar gula dalam darah meningkat.

Adapun Beberapa gejala yang mengindikasikan seorang anak menderita Diabetes Melitus adalah:

  • Sering cepat merasa lapar dan haus.
  • Intensitas buang air kecilnya makin sering (poliuria)
  • Berat badan tidak pernah naik

Jika anak anda mempunyai tanda dan gejala penyakit diabetes melitus di atas, sebaiknya anda segera melakukan pengobatan sebelum penyakit anda bertamabah parah. Salah satu obat yang sangat aman untuk penyakit diabetes melitus anak yaitu obat herbal De Nature Indonesia. Obat Kutil Kelamin

Faiz, anak lelaki berusia 6 tahun, tampak seperti anak-anak lain seusianya, lincah dan aktif bergerak. Tapi tahun lalu, ia sempat membuat kedua orang tuanya gelisah.

“Awalnya kami pikir tak masalah ketika dia mulai suka makan dan sering minum. Tapi, ketika berat badannya tetap 11 kilogram, perutnya membuncit, dan mulai sering ngompol, padahal sudah lama sekali tidak demikian, kami mulai khawatir,” kata M. Arif Novianto, ayah Faiz, dalam acara seminar media tentang deteksi dini diabetes pada anak, pekan lalu.

Arif sangsi ketika dokter mendiagnosis Faiz mengidap penyakit paru-paru. Arif setengah memaksa dokter untuk melakukan tes darah. “Dokter angkat tangan ketika hasil tes gula darah Faiz mencapai angka 270 sebelum makan dan 450 sesudah makan,” kata Arif, dalam acara yang diselenggarakan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan World Diabetes Foundation itu. Kadar gula darah yang aman adalah 100-140 mg/dl.

“Di keluarga besar sempat saling menyalahkan begitu disebut Faiz mengidap diabetes tipe I,” kata Arif. Padahal, menurut ahli endokrin anak dr Aman Bhakti Pulungan, SpA(K), narasumber dalam acara tersebut, diabetes melitus tipe I (DM tipe I) tidak lagi patuh kepada aturan keturunan yang hanya terjadi pada 10 persen kasus. Penyakit metabolik ini sebagian diduga juga akibat penyakit autoimun, infeksi virus, sel pankreas yang rusak, atau tubuh tak lagi bisa memproduksi cukup insulin.

“Bahkan juga yang asimtomatik atau sebabnya tidak diketahui,” kata dr Aman, yang juga merawat Faiz. Aman merujuk pada pasien lainnya, Arman Maulana Azhar, 18 tahun, remaja pengidap DM tipe I yang didiagnosis sejak kelas V sekolah dasar.

DM tipe I adalah kelainan sistemik yang terjadi akibat gangguan metabolisme yang ditandai dengan hiperglikemia kronik, yakni terjadi kerusakan pada sel penghasil insulin di liur lambung atau pankreas yang bertugas menjaga keseimbangan gula darah.

Pada satu titik, menurut dr Aman, lebih penting mencari solusi bagaimana menangani anak-anak yang terpilih mengidap DM tipe I ini, sebagaimana halnya perhatian yang didapat anak-anak yang mengidap DM tipe II. “Sebab, jika yang tipe II masih ada obat yang bisa dikonsumsi, yang tipe I tergantung insulin saja,” kata dr Aman.

“Pemerintah bukannya tidak memperhatikan kebutuhan pengidap diabetes tipe I ini. Tapi kami juga berharap ada gerakan dari komunitas untuk ikut menangani masalah ini,” kata Dr Ekowati Rahajeng, SKM, MKes, Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular, dalam sambutannya.

“Menangani penyakit kronik memang berat bagi negara berkembang, seperti Indonesia, karena juga masih berhadapan dengan masalah penyakit infeksi,” kata dr Badriul Hegar, SpA(K), PhD, Ketua Umum Pengurus Pusat Dokter Anak Indonesia. Berdasarkan pendataan selama 2008-2010 Unit Kelompok Kerja Endiokrinologi Anak IDAI, sebanyak 674 anak mengidap DM tipe I di Indonesia.

Terlepas dari beratnya biaya yang harus dikeluarkan, dr Aman juga prihatin terhadap tingginya angka kesalahan dan keterlambatan diagnosis pada anak pengidap diabetes tipe I. Ini terjadi karena kesadaran dan pengetahuan masyarakat yang masih rendah soal DM tipe I. Selain kemungkinan terjadi hipoglikemi atau hiperglikemi, anak pengidap DM tipe I bisa terserang ketoasidosis diabetikum.

“Seperti Faiz, Arman juga sempat mengalami ketoasidosis sehingga harus dirawat sampai enam kali,” kata dr Aman. Ketoasidosis adalah kondisi ketika kadar gula darah meningkat tak terkendali sehingga menyebabkan tubuh membentuk zat sampingan keton. Keton menyebabkan darah menjadi asam yang meracuni otak sehingga kesadaran pasien menghilang. Serangan awalnya mulai sesak napas, muntah-muntah, sakit perut, kerusakan ginjal, katarak, jantung, hingga koma dan kematian.

Seorang pengidap DM tipe I harus mengambil “rapor” tiga bulan sekali. “Selama pemeriksaan darah HbA1C, bisa bertahan di bawah angka delapan bisa dikatakan mereka hampir normal,” kata Aman. “Intinya, jangan sampai lupa mengecek kadar gula darah.”

Waspadai jika anak :

  • Makan banyak tapi berat badan tak bertambah.
  • Sering kehausan.
  • Sering buang air kecil. Pada malam hari tiba-tiba sering mengompol, meski sebelumnya tidak
  • pernah lagi sejak beranjak besar.
  • Cepat lelah.
  • Napas anak berbau aseton atau asam.
  • Mudah terkena infeksi jamur pada kulit.
  • Penglihatan kabur.
  • Muntah dan sakit perut.

Empat pilar penanganan DM tipe I pada anak :

  • Insulin dengan jumlah yang teratur dan terukur
  • Pengaturan pola makan, jenis, dan jumlahnya
  • Olahraga
  • Pemantauan rutin
  • Edukasi bagi anak, orang tua, keluarga, dan masyarakat di lingkungan anak

Solusi Penyakit Diabetes (Kencing Manis) Pada Anak :